Minggu, 25 Maret 2018

Utang Utang Utang

Patut kita ketahui bahwa hutang Republik ini dimulai pada masa dia baru lahir , hal ini dikarenakan salah satu syarat pengakuan kedaulatan negara ini; adalah dia bersedia menanggung hutang yang dihasilkan Pemerintahan Hindia Belanda sejak tahun 1942 sebesar 4,3 Miliar Gulden,dengan tekanan Amerika yang dan kawan-kawannya di Dewan Dewan Keaman PBB pada 14 April 1949 membawa satu babak dalam drama perjalanan sebuah negara yang baru lahir itu yang dicacah dengan lagi RI-BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), kesepakatan tersebut melahirkan negara bentukan kerajaan penjajah yang sekiranya ingin meniru bentuk Common Welt sekutunya diseberang air sana, namun sejatinya adalah sebuah cara untuk bisa meringankan beban utangnya yang menumpuk ketika memaksakan diri saat membonceng tentara sekutu untuk kembali mengukuhkan hegemoninya di negara yang saat itu belum jelas bentuknya. Sehingga tepatnya pada tanggal 27 Desember 1949, penyerahan kedaulatan secara penuh diterima oleh delegasi Indonesia yang saat itu diwakili Oleh Drs. Moh. Hatta dari Ratu Belanda Juliana.

Begitu mahalnya harga kemerdakaan sehingga negara bentukan tersebut bubar pada tanggal 17 Agustus 1950 dan berganti dengan tajuk NKRI masih tetap harus menanggung hutang tersebut.
Dikarenakan awal pembentukannya dan pengakuannya yang berlatar belakang hutang berimbas pada mental hutang yang menurun apakah itu secara genetik atau telah menjadi senjata untuk bisa selamat dari krisis buatan sendiri.

Sejarah kemudian mencatat Indonesia pada 15 Agustus 1952 mengajukan lamaran untuk menjadi anggota IMF untuk mengatasi persoalan keuangan dalam negeri yang sedemikian sengkarut diakibatkan oleh utang warisan dan tambahan persoalan keamanan berupa pemberontakan diberbagai wilayah, pembebersan Irian Barat, serta obsesi ganyang malaysia yang berlangsung hingga jatuhnya Presiden pertama pada tahun 1966.

Setahun setelah lamaran tersebut diajukan oleh Menteri Keuangan Sutikno atas permintaan Presiden Soekarno resmilah Indonesia menjadi anggota IMF atau lebih tepatnya pasien. Kemudian secara legal disahkan dalam sebuah instrumen UU No. 5 Tahun 1954 tentang keanggotaan Indonesia di IMF. 

Pinjaman pertama diberikan pada Agustus 1956 sebesar US$ 55 juta, namun setahun berlalu defisit anggaran melaju hingga tiga kali lipat yang dikarenakan anggaran terserap untuk dana perang yang diberi judul Trikora dan Dwikora demi menghalau hegemoni imperialisme model baru serta menejemen konflik untuk menciptakan musuh bersama yang tanpa sadar telah terjadi dalam utang tersebut. Kondisi  perokonomian negeri baru itu terus memburuk hingga 1958-1960. Sehingga pada 1960-1966 pemerintah memaksa untuk mencetak uang baru yang meyebabkan hyper inflasi hingga 650%, yang kemudian hari memunculkan redenominasi mata uang gagal sehingga mengulang kebijakan sanering yakni pemotongan nilai uang yang telah dilakukan dua kali yakni pada 30 Maret 1950 dengan judul “Gunting Syarifuddin” dan pada 24 Agustus 1959 oleh Djuanda.

Sejarah terus berlanjut dari satu hutang ke hutang lain, hingga pada 28 Februari 1963 menjelang bergabungnya Irian dengan Indonesia pemerintah mengeluarkan dalih untuk hutang baru demi meningkatkan produksi membuat upaya stabilisasi dengan mangutus Sutikno kembali ke Washington untuk melakukan negosiasi dengan harapan mendapatkan bantuan pinjaman sebesar US$82,5 Juta dari IMF.

Sudah menjadi Sunnah bahwa setiap hutang membawa beban, pemberi hutang selalu diatas budi sehingga mampu memberikan syarat serta ketentuan bagi penerima hutang yang mana pada tahun 1950 ketika Amerika Serikat bersedia memberikan pinjaman US$ 100 juta, yang kemudian memaksa pemerintah Indonesia mengakui pemerintahan Bao Dai di Vietnam dan ketika tuntutan tersebut tidak dipenuhi mengakibatkan penundaan pencairan pinjaman. Kemudian berlanjut pada peristiwa embargo bahan-bahan strategis mentah ke China, yang mana Indonesia yang merupakan produsen karet dan anggota PBB membuat pemerintah kembali taat pada kesepekatan jahat tersebut. 

Dan yang paling fenomel dari seluruh peristiwa tersebut adalah pada tahun 1964 saat obsesi dan momok yang diciptakan dalam konfrontasi ganyang Malaysia yang secara langsung melibatkan Inggris sebagai induk negara Common Welt dibalas dengan reaksi pemerintah Sokarno memprivatisasi perusahaan Inggris yang ada di Indonesia.

Hal ini segera menyita perhatian AS yang kala itu merupakan The Founding Fathernya IMF, dengan mengiming-imgingi bantuan yang belum cair dan dijawab dengan “Go To Hell With You Aid” dan kemudian harus dibayar dengan kejatuhannya pada tahun dengan drama hilangnya perwira tinggi Angkatan Darat.

Lepas sudah kita dari episode awal-awal terciptanya hutang dan kemudian kita disajikan dengan episode hutang dengan dalih memperbaiki kondisi ekonomi yang ditinggalkan oleh pemerintahan Sokarno dimana harga barang menanjak hingga 400% yang kemudian membunuh daya beli masyarakat.

Tiba masa dimana Jenderal Soeharto menggantikan mengisi kursi presiden mandatris MPR, perjanjian baru dengan IMF telah dibuat untuk atas nama stabilitas dalam kondisi dimana Indonesia sebagai penerima hutang secara ikhlas harus menerima agen-agen kapitalis serta mafia dagang menguasai pucuk-pucuk kekuasaan bahkan diisukan institusi pendidikan militer harus diisi oleh agen-agen tersebut.

Berjalan masa berkuasa selama 32 Tahun, tampak indah dalam halusinasi ternyata jumlah hutang semakin menumpuk berujung pada tahun 1998 yang mengantarkan pada digulingkannya sang Jenderal dari tampuk kekuasaannya namun tidak turut diiringi dengan jatuhnya agen-agen tadi, pertunjukkan tetap berlanjut dengan judul baru namun dengan pelakon yang sama.

Kini tercatat utang Indonesia telah mencapai Rp.3.667 Triliun, menurut laporan Menteri keuangan utang tersebut masih wajar dengan membandingkan negara Jepang yang telah mengalami puncak pertumbuhan ekonminya.

Dalam perjalannya setiap rezim menutup diri bahwa telah menelurkan utang baru demi menutu defisit anggaran yang diakibatkan belanja yang tidak perlu serta dana yang teresarap kadalam katong-kantong para kartel di negeri ini.

Pada dasarnya kekayaan negeri ini dapat terlihat dari luasnya lahan, laut, serta garis pantai. Sehingga sejak SD dulu doktrin negara agraris telah tertancap dalam - dalam di kepala kita, namun semua itu hanya cerita seolah dongeng, luasnya lahan tidak membuat petani tidak serta merta sejahtera, atau penambak garam jadi lebih bahagia,dan para nelayan bisa kaya raya.

Faktanya negara ini dilanda kemiskinan akut yang mana rilis BPS membuat penghasilan Rp.11.000/hari belum dinyatakan miskin, sungguh kenyataan miris dimana  untuk sebungkus nasi goreng saja penghasilan sehari itu tidak dapat terbeli kenapa bisa terjadi ? kembali karena utang.

Rakyat kemudian disandera dengan PP 86 Tahun 2013 yang mewajibakan mereka jadi anggota JKN yang hanya bisa berhenti dengan kematian atau pindah warga negara. Pendidikan mereka dikomersialisasikan melalui UU No 12 Tahun 2012 yang membagi manusia dalam kasta kemampuan membayar. Itu baru pendidikan tinggi belum lagi pendidikan dasar dan menengah yang tidak kalah mengundang masalah dengan penerapan zonasi serta implikasi-implikasi konyol kurikulum yang terus berganti seiring bergantinya rezim.

Petani dinegeri ini yang seharunya sejahtera tidak mampu mengangkat keterpurukannya karena aturan HPP yang berujung pada penggerabekan dan tuduhan penimbunan yang sebenarnya merupakan dalih pemerintah yang tidak mampu memonopoli gabah dengan harga rendah. Kenapa bisa begitu ? Karena hutang, regulasi mereka buat atas nama nasionalisme  dengan melambungkan harga gas alam demi menarik uang subsidi pupuk untuk petani, yang kemudian hari harga itu dipangkas oleh jenderal yang mengkoordiinir urusan kemaritiman.

Nelayan dinegeri ini disulitkan dengan subsidi bahan bakar yang harus mereka tebus dengan langkanya sehingga mereka harus mendapatkan harga yang bahkan lebih tinggi dari harga diluar subsidi. Ini kenapa ? Karena hutang ! 

Petambak garam harus merugi dengan kebijakan impor akibat permainan kartel yang membuat garam menjadi langka untuk industri, mereka meramu isu cuaca hujan membuat produksi berkurang yang kenyataannya wilayah NTT masih mengalami surplus produksi dengan menjual garam kiloan. Kembali hutang lah gara-garanya.

Terakhir rezim ini panik karena pembiayaan infrastruktur tersendat diakibatkan defisit, melalui Menteri Keuangan mereka berkeluk kesah bahwa proyek akan mangkrak, belanja anggaran akan terpangkas demi balancing APBN harus kembali kita berhutang. Reaksi yang kemudian muncul beragam dari setuju utang dan anti utang, karena curhatnya tidak bermanfaat kemudian mereka memutar otak dana Haji Ummat ingin dipakai untuk infrastruktur, menggelikan sekali alasan Azumardi Azra ketika wawancara di statisun Tivi milik bos partai pendukung pemerintah katanya “ utang tidak boleh , pakai dana haji tidak boleh lantas kita mau bangun infrastruktur dengan apa ?“. 

Selamat drama persekongkokolan jahat utang ini telah memasuki episode musibah untuk negeri ini, yang mana jika sekuritas dana Haji Ummat tersebut tidak dapat dikembalikan untuk pelayananan Haji maka kita tinggal menunggu episode akhir kehancuran negeri ini. Semoga kita semua sadar bahwa ada sesuatu yang salah sedang berjalan, kami sendiri hanya bisa memohon ampun kepada Sang Maha Pencipta Penguasa Alam Semesta, semoga tidak dibiarkan tenggelam dalam dosa yang melibatkan sebuah negeri yang dapat berbuah laknat. 

Pengembaraan Melintasi Tiga Nusa : Chapter II



Kamis 28 Februari 2008, hari baru kota baru. Makassar menyambut kami dengan mataharinya yang malu – malu karena diselimuti awan mendung, kami memanfaatkan hari ini untuk beristirahat mengembalikan tenaga yang banyak terkuras oleh perjalanan yang begitu melelahkan. ( padahal kita sudah bangun siang tapi mataharinya belom nongol ).
            
Menurut teman – teman yang memang telah lama tinggal di Makassar          ( anak edel. Red ), memang Makassar adalah daerah yang sering diguryur oleh hujan, dan kami membuktikan hal itu dengan berada di Makassar selama 2 minggu cuaca cerah yang kami temui hanya selama 4 atau 5 hari lamanya sisanya mendung dan hujan.

Bangun siang  plus kurang enak badan, perut lapar, lengkaplah sudah penderitaan, kini waktunya perut kami dilayani. Kami bangun lalu mencari kantin. Kantin disini cukup dekat ada dilantai dasar kebetulan kami berada di lantai 2. Ada hal yang keterlaluan yang kami temui di Makassar ini, kami disini sudah beli makanan kami pula harus beli air minum sungguh parah. Biasanya yang ada di Palu makannya bayar airnya gratis. Inilah salah satu bentuk komersialisasi air semoga di Palu yang dijual hanya sebatas galonan bukan sampe ke warung – warung makan atau bahkan sungai palu ikut dikomersilkan sesuai dengan deal antara pembuat kebijakan dan pemilik modal. Setelah kami pusakan hasrat perut kami, kami kembali ke Mabes lalu 2 orang rekan berinisiatif mencuci pakaian, kerumah salah seorang anggota Edelweis, lama kami menunggu dan membunuh kebosanan dengan membaca dan menonton TV akhirnya dua rekan tadi pulang, setelah berkumpul kembali kami diajak teman – teman Edel  untuk bersilaturahim ke tempat beberapa Mapala yang ada di Unhas. 


Jum’ at 29 Februari 2008 seperti biasa aktivitas kami masih diawali dengan bangun siang, telah banyak anggota Edel yang kami kenal dan mengenal kami, namun masih sedikit lupa dengan nama – nama mereka. kami menanti kepastian tentang keputusan teman – teman Edel yang bersedia mengantar perjalanan kami menuju puncak pulau Sulawesi. Karena kami tidak mempersiapkan diri untuk mebuka jalur baru maka kami sedianya meminta dukungan dari teman – teman yang berada di Makassar. Dengan pertimbangan bahwa kami belum melakukan survey sama sekali tentang kebiasaan penduduk setempat lamanya perjalanan, dan segala sesuatu  menyangkut gunung tersebut yang untuk mengumpulkan informasinya saja membutuhkan waktu yang agak lama dan menghabiskan limit surat izin kegiatan kami yang hanya berlaku selama 3 bulan lamanya.

Waktu berganti adzan jum’at memanggil untuk melaksanakan shalat berjamaah, setelah shalat kami berbincang sedikit mengenai aktivitas, sharing mengenai persoalan seputar kepecintaalaman. Sampai sore hari kami bertemu dengan seorang teman Edel yang bernama Phiro yang sungguh luar biasa aktivitanya, mengenai phiro penulis sungguh kagum karena beliau melakukan sesuatu yang jarang dilakukan oleh anak muda, beliau berbagi ilmu dengan anak – anak jalanan yang ada di Makassar. Mereka adalah  anak – anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya pendidikan yang katanya telah di subsidi pemerintah sebanyak 20 % dari APBN. Disini phiro bertindak tanpa tendensi apapun, tidak digaji, tidak diberi puji, atau mendapat penghargaan dari siapapun. Salah seorang muridnya yang bernama Pardi Cukup dekat dengan kami karena setiap sore dia menjemput sang guru. Dalam beberapa kasus banyak orang yang memilih megabdikan hidupnya untuk menjadi guru namun sulit untuk bergaul dengan orang – orang seperti Pardi, sulit untuk di tempatkan ditengah desa nan kumuh yang jauh dari kemudahan kota. Semoga cerita singkat Phiro memberikan inspirasi kepada kita untuk mau berbuat dan menumbuhkan jiwa sosial diantara kita.

Sabtu 01 Maret 2008 kami semua sudah terbangun namun dengan waktu yang sama, selalu kesiangan maklum soalnya begadang. Seluruh pengurus Edelweis datang untuk rapat yang rupanya menentukan nasib kami, diantar atau tidak, setelah kira – kira 15 menit
kemudian penulis yang kebetulan waktu         Pintu masuk ke Mabes Edel
itu ditunjuk sebagai ketua rombongan dipanggil oleh pengurus Edel dan memastikan bahwa keberangkatan kami besok, setelah melakukan beberapa kesepakatan rapat dibubarkan dan segala keperluan akomodasi serta transportasi kami dipenuhi oleh anak – anak Edel…….        

Pengembaraan Melintasi Tiga Nusa

Sebenarnya tulisan ini merupakan tulisan lama, saking lamanya saya sempat lupa pernah menulis ini sebenarnya ini sebuah jurnal catatan perjalan kami ketika kami melakukan perjalanan menyebrangin tiga pulau mayor di negeri ini, yang mana pelaku saat itu saya sendiri saya pakai nama pena saja Cakrawala Lazuardi, kemduian Ongky Kalong, Indra Botak, dan Ilfan Lakala yang merupakan pelaku sejarah dalam tulisan ini akan saya coba sajikan, nanti saat menikmati tulisan ini pada bagian-bagian tertentu akan terasa sedikit buram dikarenakan lanjutannnya dibuat lama setelah tulisan ini jadi


Pengembaraan Melintasi Tiga Nusa.


Chapter I : The Beginning 
Hari itu tanggal 25 Februari 2008 adalah hari dimana kami dilepas secara resmi oleh PD III dalam kegiatan Ekspedisi Jelajah tapak nusantara, kira – kira pukul 09.00 waktu Indonesia Tengah upacara dilaksanakan dengan penuh hikmad dengan pembacaan kode etik pecinta alam Indonesia yang dipimpin langsung oleh kang Burhanuddin Aliuddin “dengan gagah……” eit….. kang Bur jangan senang dulu ada tapinya… “dengan gagah  tapi kecepatan hingga yang laen pada ketinggalan “. Tidak apa – apa karena kode etik bukan untuk sekedar dibaca atau dihapal tapi kode etik adalah implementasi dari perbuatan kita apakah sudah mencerminkan jiwa seorang pecinta alam yang menyandang mahasiswa didepannya… ?....

Jadi secara resmi hari itu kami dianggap sudah melaksanakan bagian dari perjalanan kami meskipun kami masih ngalor – ngidul di lingkungan kampus sampai sekitar pukul 15.45 Indonesia bagian tengah menurut jam di Hapeku yang ilang di Kapal…. 😭  . Nah kira –kira pukul 16.00 kami tiba di Tipo mencari angkutan untuk melanjutkan perjalanan kami. Dengan sedikit lobi – lobi pada petugas DLLAJR yang peluitnya kurang sakti, kami meminta untuk dibantu menahan mobil dengan bak terbuka; atau terserah apalah yang penting bisa kita ikuti sampai ke tempat tujuan dengan selamat. 
Sekedar informasi ini sudah menjadi kebiasan kami tiap bertualang pasti dana minim untuk mentaktisi itu semua, kami memakai jurus muka tembok kulit badak untuk memutus urat malu demi sampai ketujuan, kami meggunakan cara nebeng. Lama kami menunggu mobil yang mau menampung kere seperti kami  tidak muncul juga, hingga malam larut maka kami memutuskan untuk tidur di teras rumah orang…… nah, inilah belum jauh jalan yang di tempuh sudah susah, tapi ini tidak mengurangi niat kami untuk tetap nekad pergi. 
Masih pada tempat yang sama tanggal 26 February 2008 penulis duluan terbangun karena gelisah mana tau mobl yang orangnya baik hati lewat, tapi mau kata apa yang lain masih pada lelap tidur tergeletak seperti mayat….. satu – persatu anggota tim terbangun ada yang pergi buang air ada yang cari air tapi yang jelas tidak ada yang inisiatif untuk cuci muka pada waktu itu. Dengan sedikit kelaparan kami berinisiatif membongkar packingan untuk mengambil ransum pemberian Salah seorang teman  “ Acho” Laka ( sebenarnya bukan dia tapi yang kasih sepupunnya ) setelah mendapat asupan makanan yang rasa nya agak aneh itu, perut terasa kenyang tapi leher mengatakan hal sebaliknya enek begitu, manis , begitu asin rasanya sampe ke ubun – ubun…. Sebelumnya kami ingin merubah niat dari nebeng menjadi sewa bis namun kami urungkun niat tersebut. Masih pada hari yang sama tepatnya pukul 09.21 waktu Indonesia bagian tengah kami dipertemukan dengan seorang yang berhati baik yang bersedia memberi tumpangan sampai batas terminal Watatu, disini kami juga bertemu dengan seorang teman yang entah siapa namanya kami juga tidak tahu tapi orangnya agak tua  dan rada aneh kami juga tidak berniat tahu siapa dia kata orang Inggris who care, dia mengira kami pedagang bawa tas besar yang isinya seprei , dan perabot rumah tangga yang lain. 
Masih di hari yang sama pukul 10.44 waktu Indonesia bagian tengah mobil yang kami tumpangi sampai di termianal Watatu memang dasar jodoh, rupanya yang memberi kami tumpangan salah seorang pediri KPA Pacet dan rupanya seior kita di Pertanian. Sampai disini tidak ada masalah kecuali perut dua orang anggota tim ekspedisi “muntah – muntah” kami memutuskan  beristirahat sejenak, untuk menenangkan gejolak perut si korban yang mabok perjalanan ( padahal nunggu mobil, belom ada yang lewat ) akhirnya penatian kami usai beberapa saat kemudian kebetulan si sakit agak baikan dan siap kembali untuk diajak bergulat dengan medan jalan yang lebih sangar, kalau tadi Pick Up skarang kami mendapat tumpangan Truck tepatnya pada pukul 11.04 masih Indonesia bagian tengah sampai pada pukul 11.48 tumpangan kamipun harus putus lagi sampai Bambaira, dengan sabar hati kami kembal menunggu tumpangan rupanya beberapa menit berlalu bis tenaga selamat lewat dan berhenti beberapa meter didepan kami penulis berinisiatif menanyakan berapa harga untuk ke tujuan, rupanya jika dikalulasikan tim masih mengalami defisit mana sopirnya belagu lagi, kalau ungkapan orang palu sehari – hari ba WATAK…. Tidak bisa ditawar –tawar harga jasanya….. akhirnya tepat pukul 12.01 pemilik warung tempat kami beristirahat di Bambaira menwarkan tumpangannya menuju Bambalamotu, dengan senang hati kami terima sampai pukul 12.39 kami sampai di Bambalamotu, perut lapar saatnya makan siang kami menguji kelayakan persiapan perjalana kami, rupanya tertata dan tersusun dengan rapi kami membeli mie, membawa spiritus dan satu tabung gas dan kami memasak    di halaman seorang warga, pake Trangia sementara si “Orang Aneh” tadi pergi makan            ke warung dekat situ sambil menawarkan makan kepada kami. Pukul 14.15 kami kembali mendapatkan tumpangan kali ini jempol benar – benar terbukti kesaktiannnya, tumpangan kali ini sampai di Tujuan… kira – kira menjelang maghrib kami tiba di Tikke si “ Orang Aneh” mengajak kami singgah di rumahnya bukannya kami takut tapi kami tidak ingin mengacau menejemen perjalanan yang sudah kami atur sebelumnya yaitu sampai di tujuan pada esok harinya maksimal malam hari. 
Tiba malam hari kami masih di atas truck jalanan semakin sangar saja karena belum mulus maka getaran mobil sampai ke tulang sumsum, pukul 18.55 kami singgah disebuah rumah makan demi meredam amukan perut kami yang dari tadi berunjuk rasa minta segera di isi. Setelah makan kami sedikit berbincang – bincang dengan sopir yang begitu ramah, lalu kami melanjutkan perjalanan dan kembali  “ tubuh kami terguncang terhempas batu jalanan “ syair lagunya ebiet. Sampai kami semua merasa keletihan dan mulai beradaptasi dengan kerasnya jalan tepat pukul 23.39 supir kembali singgah di sebuah warung yang memang menjadi tempat mangkalnya para sopir kira - kira pukul 01.00 dini hari pak supir kembali melanjutkan perjalanan  , dan akhirnya kami dipaksa lelah untuk segera memejam mata sampai kami tidak tahu kami bermalam dimana ?  : ). Tanggal 27 Februari 2008, pukul 06.39 salah seorang anggota tim tersadar kemudian disusul dengan anggta tim yang lain, merasa bingung entah ada dimana  dengan sedikit ragu – ragu dan agak keki, penulis memberanikan diri turun dari truck dan sambl bawa kamera pocket dengan gaya turisnya tapi kere penulis coba menggali informasi pada penduduk setempat yang rupanya nama derah tersebut adalah Malolo dan yang lain ikut turun dari truck untuk membasuh wajah dan mencuci rambut yang telah mengeras seperti kawat karena bercampur dengan debu selama sehari semalam…dan yang kebetulannya lagi didekat situ ada penjual nasi kuning kami sarapan sambil menunggu keputusan selanjutnya dari sang sopir. Setelah kami makan kami di datangi sang sopir yang namanya pak Kai untuk mengajak kami sarapan dan minum secangkir kopi hangat. Kira – kira pukul 07. 32 kami melanjutkan perjalan saat masuk didaerah Mamuju kami diserang hujan ( lengkap penderitaan ) selama 2 jam lamanya. pukul 11.30 kami  singgah di rumah makan di daerah Majene untuk mengisi perut. Setelah itu kami mandi, membersihkan diri karena keringat dan air sudah bercampur di baju berkolaborasi menjadi bau, setelah itu sedikit istirahat dan pukul 01.12 kami melanjutkan perjalanan, di sini kami membunuh waktu dengan tidur hingga tanpa terasa pukul 23.11 kami tiba di Kota Tujuan Makassar  kalau dulu namanya Ujung Pandang entah kenapa dinamakan begitu penulis juga belum sempat mencari latar belakang penamaan nama kota Ujung Pandang mungkin dilain kesempatan tulisan ini dapat diperkaya dengan sejarah singkat atas kota – kota atau nama daerah yang pernah disinggahi selama perjalanan, Kami pun berhenti di ujung jalan perintis kemerdekaan dengan bantuan bapak Kai kami mencegat sebuah pete – pete ( sebutan untuk angkot di Makassar) ke Kampus Unhas. untuk pak Kai dan pamannya kami ucapkan terima kasih yang sebesar – besar nya dari lubuk hati yang paling dalam karena telah mebantu banyak selama perjalanan kami. Tepat pukul 00.15 kami tiba di kampus UNHAS di MABES UKMPA Edelweis kami disambut oleh Deddy kemudian Wawan datang tidak lama kemudian Indra menyusul sambil berbincang – bincang melepas lelah dan akhirnya tidur……………………………

Ehhh Munncul Lagi

Setelah saya menghabiskan waktu membaca semalaman untuk sebuah kisah di kaskus mebuat niat saya menulis mucul lagi, meskipun teknik tulisan yang berhamburan kacau serta tanpa tata krama EYD bahasa Indonesia yang baik dan benar namun saya berusaha ingin menulis lagi entah itu kisah fiksi atau kisah nyata yang fiksi atau tentang usaha konspirasi jahar sebuah organisasi rahasia yang ingin menguasai dunia yang mebuat pembaca menjadi paranoid tak terkendali.

Rupa-rupanya menulis itu, bukan hal yang mudah sama dengan meruntuhkan egonya bang virgoun bukan hal mudah, karena saya melihat satu komentar dari teman, bahwa blog ini sudah lama tidak di sambangi sama empunya, terakhir kali menulis tanpa insirasi hanyalah sebuah lirik lagu punya Maher Zein, entah apa sebabnya mood waktu itu sehingga secara tega memasukkan lirik lagu itu kedalam blog ini.

saya juga harap blog ini tampilannya juga berubah karena kustumasi juga standar padahal saya sudah melewati banyak hal bekerja dengan website selama dikantor lama saya.

saya sedanng berpikir untuk hijrah dari bloger ke wordpress yang lebih saya kuasai untuk kostumasinya karena terbiasa bekerja dengan linkungan CMS nya selama ini saya berpikir juga tidak ada orang lagi yang singgah ehh rupa-rupanya ada kawan yang nangkring.

Sepertinya selama ini waktu yang dihabiskan bisa dimuat dalam tulisan untuk berbagai walaupun untuk konsumsi probadi

Salam