Minggu, 25 Maret 2018

Pengembaraan Melintasi Tiga Nusa

Sebenarnya tulisan ini merupakan tulisan lama, saking lamanya saya sempat lupa pernah menulis ini sebenarnya ini sebuah jurnal catatan perjalan kami ketika kami melakukan perjalanan menyebrangin tiga pulau mayor di negeri ini, yang mana pelaku saat itu saya sendiri saya pakai nama pena saja Cakrawala Lazuardi, kemduian Ongky Kalong, Indra Botak, dan Ilfan Lakala yang merupakan pelaku sejarah dalam tulisan ini akan saya coba sajikan, nanti saat menikmati tulisan ini pada bagian-bagian tertentu akan terasa sedikit buram dikarenakan lanjutannnya dibuat lama setelah tulisan ini jadi


Pengembaraan Melintasi Tiga Nusa.


Chapter I : The Beginning 
Hari itu tanggal 25 Februari 2008 adalah hari dimana kami dilepas secara resmi oleh PD III dalam kegiatan Ekspedisi Jelajah tapak nusantara, kira – kira pukul 09.00 waktu Indonesia Tengah upacara dilaksanakan dengan penuh hikmad dengan pembacaan kode etik pecinta alam Indonesia yang dipimpin langsung oleh kang Burhanuddin Aliuddin “dengan gagah……” eit….. kang Bur jangan senang dulu ada tapinya… “dengan gagah  tapi kecepatan hingga yang laen pada ketinggalan “. Tidak apa – apa karena kode etik bukan untuk sekedar dibaca atau dihapal tapi kode etik adalah implementasi dari perbuatan kita apakah sudah mencerminkan jiwa seorang pecinta alam yang menyandang mahasiswa didepannya… ?....

Jadi secara resmi hari itu kami dianggap sudah melaksanakan bagian dari perjalanan kami meskipun kami masih ngalor – ngidul di lingkungan kampus sampai sekitar pukul 15.45 Indonesia bagian tengah menurut jam di Hapeku yang ilang di Kapal…. 😭  . Nah kira –kira pukul 16.00 kami tiba di Tipo mencari angkutan untuk melanjutkan perjalanan kami. Dengan sedikit lobi – lobi pada petugas DLLAJR yang peluitnya kurang sakti, kami meminta untuk dibantu menahan mobil dengan bak terbuka; atau terserah apalah yang penting bisa kita ikuti sampai ke tempat tujuan dengan selamat. 
Sekedar informasi ini sudah menjadi kebiasan kami tiap bertualang pasti dana minim untuk mentaktisi itu semua, kami memakai jurus muka tembok kulit badak untuk memutus urat malu demi sampai ketujuan, kami meggunakan cara nebeng. Lama kami menunggu mobil yang mau menampung kere seperti kami  tidak muncul juga, hingga malam larut maka kami memutuskan untuk tidur di teras rumah orang…… nah, inilah belum jauh jalan yang di tempuh sudah susah, tapi ini tidak mengurangi niat kami untuk tetap nekad pergi. 
Masih pada tempat yang sama tanggal 26 February 2008 penulis duluan terbangun karena gelisah mana tau mobl yang orangnya baik hati lewat, tapi mau kata apa yang lain masih pada lelap tidur tergeletak seperti mayat….. satu – persatu anggota tim terbangun ada yang pergi buang air ada yang cari air tapi yang jelas tidak ada yang inisiatif untuk cuci muka pada waktu itu. Dengan sedikit kelaparan kami berinisiatif membongkar packingan untuk mengambil ransum pemberian Salah seorang teman  “ Acho” Laka ( sebenarnya bukan dia tapi yang kasih sepupunnya ) setelah mendapat asupan makanan yang rasa nya agak aneh itu, perut terasa kenyang tapi leher mengatakan hal sebaliknya enek begitu, manis , begitu asin rasanya sampe ke ubun – ubun…. Sebelumnya kami ingin merubah niat dari nebeng menjadi sewa bis namun kami urungkun niat tersebut. Masih pada hari yang sama tepatnya pukul 09.21 waktu Indonesia bagian tengah kami dipertemukan dengan seorang yang berhati baik yang bersedia memberi tumpangan sampai batas terminal Watatu, disini kami juga bertemu dengan seorang teman yang entah siapa namanya kami juga tidak tahu tapi orangnya agak tua  dan rada aneh kami juga tidak berniat tahu siapa dia kata orang Inggris who care, dia mengira kami pedagang bawa tas besar yang isinya seprei , dan perabot rumah tangga yang lain. 
Masih di hari yang sama pukul 10.44 waktu Indonesia bagian tengah mobil yang kami tumpangi sampai di termianal Watatu memang dasar jodoh, rupanya yang memberi kami tumpangan salah seorang pediri KPA Pacet dan rupanya seior kita di Pertanian. Sampai disini tidak ada masalah kecuali perut dua orang anggota tim ekspedisi “muntah – muntah” kami memutuskan  beristirahat sejenak, untuk menenangkan gejolak perut si korban yang mabok perjalanan ( padahal nunggu mobil, belom ada yang lewat ) akhirnya penatian kami usai beberapa saat kemudian kebetulan si sakit agak baikan dan siap kembali untuk diajak bergulat dengan medan jalan yang lebih sangar, kalau tadi Pick Up skarang kami mendapat tumpangan Truck tepatnya pada pukul 11.04 masih Indonesia bagian tengah sampai pada pukul 11.48 tumpangan kamipun harus putus lagi sampai Bambaira, dengan sabar hati kami kembal menunggu tumpangan rupanya beberapa menit berlalu bis tenaga selamat lewat dan berhenti beberapa meter didepan kami penulis berinisiatif menanyakan berapa harga untuk ke tujuan, rupanya jika dikalulasikan tim masih mengalami defisit mana sopirnya belagu lagi, kalau ungkapan orang palu sehari – hari ba WATAK…. Tidak bisa ditawar –tawar harga jasanya….. akhirnya tepat pukul 12.01 pemilik warung tempat kami beristirahat di Bambaira menwarkan tumpangannya menuju Bambalamotu, dengan senang hati kami terima sampai pukul 12.39 kami sampai di Bambalamotu, perut lapar saatnya makan siang kami menguji kelayakan persiapan perjalana kami, rupanya tertata dan tersusun dengan rapi kami membeli mie, membawa spiritus dan satu tabung gas dan kami memasak    di halaman seorang warga, pake Trangia sementara si “Orang Aneh” tadi pergi makan            ke warung dekat situ sambil menawarkan makan kepada kami. Pukul 14.15 kami kembali mendapatkan tumpangan kali ini jempol benar – benar terbukti kesaktiannnya, tumpangan kali ini sampai di Tujuan… kira – kira menjelang maghrib kami tiba di Tikke si “ Orang Aneh” mengajak kami singgah di rumahnya bukannya kami takut tapi kami tidak ingin mengacau menejemen perjalanan yang sudah kami atur sebelumnya yaitu sampai di tujuan pada esok harinya maksimal malam hari. 
Tiba malam hari kami masih di atas truck jalanan semakin sangar saja karena belum mulus maka getaran mobil sampai ke tulang sumsum, pukul 18.55 kami singgah disebuah rumah makan demi meredam amukan perut kami yang dari tadi berunjuk rasa minta segera di isi. Setelah makan kami sedikit berbincang – bincang dengan sopir yang begitu ramah, lalu kami melanjutkan perjalanan dan kembali  “ tubuh kami terguncang terhempas batu jalanan “ syair lagunya ebiet. Sampai kami semua merasa keletihan dan mulai beradaptasi dengan kerasnya jalan tepat pukul 23.39 supir kembali singgah di sebuah warung yang memang menjadi tempat mangkalnya para sopir kira - kira pukul 01.00 dini hari pak supir kembali melanjutkan perjalanan  , dan akhirnya kami dipaksa lelah untuk segera memejam mata sampai kami tidak tahu kami bermalam dimana ?  : ). Tanggal 27 Februari 2008, pukul 06.39 salah seorang anggota tim tersadar kemudian disusul dengan anggta tim yang lain, merasa bingung entah ada dimana  dengan sedikit ragu – ragu dan agak keki, penulis memberanikan diri turun dari truck dan sambl bawa kamera pocket dengan gaya turisnya tapi kere penulis coba menggali informasi pada penduduk setempat yang rupanya nama derah tersebut adalah Malolo dan yang lain ikut turun dari truck untuk membasuh wajah dan mencuci rambut yang telah mengeras seperti kawat karena bercampur dengan debu selama sehari semalam…dan yang kebetulannya lagi didekat situ ada penjual nasi kuning kami sarapan sambil menunggu keputusan selanjutnya dari sang sopir. Setelah kami makan kami di datangi sang sopir yang namanya pak Kai untuk mengajak kami sarapan dan minum secangkir kopi hangat. Kira – kira pukul 07. 32 kami melanjutkan perjalan saat masuk didaerah Mamuju kami diserang hujan ( lengkap penderitaan ) selama 2 jam lamanya. pukul 11.30 kami  singgah di rumah makan di daerah Majene untuk mengisi perut. Setelah itu kami mandi, membersihkan diri karena keringat dan air sudah bercampur di baju berkolaborasi menjadi bau, setelah itu sedikit istirahat dan pukul 01.12 kami melanjutkan perjalanan, di sini kami membunuh waktu dengan tidur hingga tanpa terasa pukul 23.11 kami tiba di Kota Tujuan Makassar  kalau dulu namanya Ujung Pandang entah kenapa dinamakan begitu penulis juga belum sempat mencari latar belakang penamaan nama kota Ujung Pandang mungkin dilain kesempatan tulisan ini dapat diperkaya dengan sejarah singkat atas kota – kota atau nama daerah yang pernah disinggahi selama perjalanan, Kami pun berhenti di ujung jalan perintis kemerdekaan dengan bantuan bapak Kai kami mencegat sebuah pete – pete ( sebutan untuk angkot di Makassar) ke Kampus Unhas. untuk pak Kai dan pamannya kami ucapkan terima kasih yang sebesar – besar nya dari lubuk hati yang paling dalam karena telah mebantu banyak selama perjalanan kami. Tepat pukul 00.15 kami tiba di kampus UNHAS di MABES UKMPA Edelweis kami disambut oleh Deddy kemudian Wawan datang tidak lama kemudian Indra menyusul sambil berbincang – bincang melepas lelah dan akhirnya tidur……………………………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar