Entah Berantah, 27 Desember 2007
Teruntuk
Sahabatku yang sangat aku hormati.
Di
Tempat ( di mana kebenaran terkurung bersama mu ) .
Terucap doa dalam hati, semoga kita semua sama dalam lindungan Tuhan yang sama menganugrahi kita akal sehat hingga kita masih mampu berfikir dengan akal sehat sebagaimana orang masih waras dan memiliki akal sehat sehingga kita mampu membedakan dan membagi dengan adil antara kebenaran dan kebatilan bukan sesuai dengan selera dan kesepakatan kita masing – masing demi kebenaran yang subyektif.
Temanku entah dari mana aku harus memulai kata – kata untuk membahas permasalahan di negri yang kita cintai ini karena semakin hari aku semakin tidak sanggup memandang diriku sendiri yang semakin lemah, bukan karena tenagaku tidak lagi mampu mengangkat jasadku yang masih segar namun jiwaku yang semakin menjadi kerdil karena terus terancam dengan berbagai terror yang datang padaku sebab terlalu banyak kebenaran yang aku saksikan, aku simpan dan ingin kusampaikan pada dunia. Mereka para tiran telah mengusai negri kita, mereka ingin melenyapkan kebebasan kita, pers dibungkam, media tinggal namanya saja, semua harus memihak pada mereka yang berkuasa, berita yang disampaikan seperti kitab mazmur puji – pujian yang dirahkan pada mereka padahal mereka telah mengatasnamakan kita untuk menaikkan isi kantong mereka yang sengaja mereka sobek untuk mengisi dompet mereka yang terus mereka kosongkan dan menimbun segala harta yang berasal dari darah dan keringat manusia yang kerja di Negara ini di bawah kasur mereka dan lemari – lemari besi yan mereka buat untuk meyimpan hasil kerakusan dan ketamakan perut mereka yang seluas enam kali lapangan bola kaki atau lebih luas lagi, itu hanyalah perkiraan ku saja kasihan mereka, mereka diperkosa oleh keinginan duniawi yang mereka pelihara sebagai kucing kecil dan kemudian menjadi harimau yang sekarang telah tidur dan sebentar lagi menerkam mereka dan mengajak mereka semua berenang di kolam nanah di dalam neraka Jahanam.
Namun yang lebih menyedihkan lagi bukan itu mereka adalah orang – orang yang suka bersenang di tengah kesedihan dan duka orang banyak padahal kata mereka “ kami akan lakukan yang terbaik untuk orang banyak, bersama kita bisa…… “. Bisa apa ? kita bisa apa sama – sama ? bersama kita bisa mati ? bersama kita bisa gila ? atau bersama kita bisa hancur….. aneh slogan yang tidak kesampaian artikulasi nya dengan kata – kata yang mengggantung ini seperti sebuah kesengajaan agar tiada tuntutan di kemudian hari kita tahu kan kita bisa ha……..ha……..ha………. sungguh enak jadi orang pintar yang bermoral rusak di negri ini, bisa membodohi orang banyak dengan mudahnya dan orang banyak percaya – percaya saja karena naluri mereka di kaburkan oleh taqlid buta dan fanatisme terhadap orang yang di tinggkan padahal selama ini mereka telah dimakan perlahan – lahan mulai dari ujung jari samapi habis darah mereka diminum dalam perjamuan bersama para undangan dari luar negri. Aku masih ingat buku sejarah mengajarkan kita tentang penumpasan para pemberontak yang berhaluan kiri dan bernafaskan agama aku tidak tahu siapa lawan politik dari kaisar dan para pungggawa negri ini sebenarnya apakah doktrin keras dari para tokoh agama atau ajaran orang yang behaluan kiri kemarin, yang ku ingat dalam buku sejarah yang ku pelajari dari sekolah adalah menjelek- jelekkan para pejuang yang telah banyak berjasa mengusir para penjajah dari Negara kita baik itu si Agamawan atau si Kiri namun jasa itu terhapus begitu saja seperti terhapusnya tulisan di atas pasir yang tersapu oleh ombak. Karena keinginan yang berbeda mereka dituduh pembagkang dan di anggap sebagai penghianat. Diarahakan kepada mereka berbagai tuduhan- tuduhan demi melegalkan tindakan anarkis tiran negri ini, dibuatlah berbagai alasan demi melancarkan perang bersenjata terhadap mereka yang mempertahanakan ide mereka. Apa para tiran ini pikir manusia di negri ini semua nya robot yang dengan semuanya haruss mengikuti dengan perintah mereka, saya punya sedikit ide kalau seperti itu, demi menciptakan harmonisasi dalam masyarakat sesuai denga ide kaisar buat saja pabrik manusia yang di mana dia bisa menciptakan manusia yang tidak bakal melawan , menentang dan bahkan mengikuti seluruh ide dari tuan penguasa tadi, itu juga kalau mereka mampu makanya jangan coba bertingkah di dunia ini selayak nya tuhan yang sudah mengatur alam semesta, kalau tetap bagitu juga sifat tuan kaisar pasti akan muncul Musa – musa yanga baru baru dan tuan tidak salah tuan lah Fir’aun nya dan anak buah tuan adalah Qarun yang suka menupuk harta sampai embeien.
Sahabatku ini adalah sedikit cerita yang datang dari negri para tiran yang suka mengoyak daging anak bangsanya sendiri yang lama - kelamaan mengugurkan seorang yang belum sempat berada dalam kandungan, aneh kan ? itu karena mereka takut di gantikan dengan orang yang lebih baik dan bekualitas. Sahabatku ini hanyalah perumpamaan yang aku coba ungkapkan padamu agar kau lebih mengerti atau aku telah membuatmu lebih bingung lagi dengan sekian banyak penjelasan yang begitu rumit ini, memang tidak ada yang begitu dengan mudahnya untuk dijelaskan begitu saja di negri ini semua nya serba aneh, serba kacau, dan serba tidak teratur dengan aturan yang begitu tertata rapi namun kebanyakan kita orang yang terkena aturan, sementara yang lain kebal dengan aturan dan menari – nari menelanjangi aturan hingga aturan hanya seperti kabut yang hilang bersama munculnya matahari pagi.
Sahabatku saat aku menulis surat ini tubuhku dalam keaadaan yang sangat memprihatinkan karena ulah lidahku yang begitu berani mengungkap kebenaran dan menyanyikan kebiasaan lalim para penguasa kebetulan aku adalah seorang seniman tepatnya aku penyanyi aku juga sengan menciptakan lagu menulis kebiasanku menyayikan kritikan – kritikan tajam hingga membuat panas telinga para penguasa lalim itu tulisan – tulisan ku yan kusebar melalui selebaran di pelosok negri dan di dalam sebuah milis, kolom blog dan media lain yang memudahkan bagiku untuk menyampaikan apa yang disuarakan oleh hatiku. Saat itu aku di tangkap saat sedang mengadakan panggung terbuka di jalan orang berkumpul dan memperhatikanku, aku sangat bersemangat karena jiwaku bukan miikku lagi jiwaku sudah kugadaikan kepada kekuasaan mutlak kekuasaan absolute, mungkin tidak kugadaian padanya sebab dari dulu jiwaku ini milik Nya. Aku penakut, takut akan kematian, namun karena kematian terus menunggu kita maka aku berusaha bersahabat dengan maut, aku adalah mahasiswa seni yang aktif di kegiatan kepetualangan alam bebas di kampusku, di alam terbukalah maut seringkali menyapaku namun tuhan lebih menginginkan aku untuk lebih lama lagi tinggal di dunia ini entah apa maksud semua ini. Pernah satu kali aku memanjat di sebuah tebing, tebing yang ku panjat rapuh bagian atas nya hampir menimpaku tinggal beberapa mili dariku, maka aku kamu pasti bisa membayangkan apa yang bisa terjadi padaku. Mungkin kaena pengalaman mautku yang cukup banyak aku hanya dapat menceritakan satu dari yang banyak dan yang paling berkesan hingga aku mau bersahabat dengan sang maut. Keberanian ku tumbuh karena keyakinanaku bahwa maut selalu menunggu, dan yang berhak mencelakaiku hanya yang mutlak pemilik maut maka makhluk apapun yang datang menerkamku sama sekalai tidak lagi membuatku gentar dan mundur dari perjuanganku sebab lukanya hanya membawa rasa perih sesaat yang mungkin hanya dapat di katakan Cuma sebuah goresan yang tidak berarti apa – apa dibanding dengan matinya keadilan dan logika manusia atas penalaran akan benar – salah.
Sahabatku saat ini tubuhku memang terluka tapi kebenaran di negri ini sedang sekarat, keadilan hampir punah, harta mampu merubah keputusan mahkamah peradilan, dari sekian persen manusia yang kukenal mungkin hanya beberapa dari mereka yang mau bernafas denganku sedang yang lain, bukan karena tidak mau namun ada yang merasa takut dan ada yang ingin bermain aman, mereka tidak yakin akan perjuangan yang sporadic seperti yang aku lakukan karena kelihatannya perjuanganku individual, karena akau tidak memliki massa. Aku tidak butuh dukungan dari siapapun di dunia ini dalam menyampaikan dan melanjutkan tugas para nabi dan orang – orang yang bukan nabi namun juga coba menyampaikan kebenaran. Bukan aku yang coba menyampaikan kebenaran namun kebenaran mempunyai cara sendiri dalam mewujudkan dirinya kedunia ini mungkin melalui aku, kau, atau kita semua yang tidak lagi sengan melihat orang yang sudah terlanjur jahat hingga iblis pun tdak sudi lagi berkawan dengannnya.
Aku bukan orang sok suci di hadapan kalian sangat naïf jika ada yang mengaku diri orang paling baik di dunia ini. Namun berusaha jadi orang yang baik adalah lebih baik daripada harus memaksakan kebaikan di luar keikhlasan, namun setidaknya dengan cara ini kita mampu memenuhi hasrat kita dalam sinkronisasi hubungan manusia, saling menasehati, membenci sikap, sifat, serta tabiat buruk dari seseorang, bukan orangn nya. Inilah yang coba kusampaikan pada mereka, karena cintaku pada rajaku maka aku menyampaikan kebenaran hakikat yang terkandung dalam hubungn manusia yang saling mebutuhkan satu sama lain aku tidak menginginkan kudeta atau menggulingkan kekuasaannya, tapi aku hanya ingin menyelamatkannya dari kejahatan nya sebab orang – orang yang telah tertindas selama ini akan balik melawannya mau atau tidak, ini bukan lagi sampah yang di tutupi lalu sejalan dengan waktu akan tercium baunya dan kebusukannya, namun ini telah menjadi bom yang sewaktu – waktu akan meledak apabila tidak di jinakkan. Sungguh aku tidak ingin menggantikan mereka namun aku hanya ingin meluruskan segala perkara yang telah banya melenceng selama ini, namun jika tidak dapat lagi aku meluruskan nya aku dapat menempuh cara yang lain untuk meluruskannya.
Sahabatku yang kini terkurung bersama keadilan di dalam jeruji dan bersebelahan blok denganku suratku yang sampai padamu ini sengaja kukirimkan padamu dengan kertas tisu toilet dan sedikit perasan lumut yang kujadaikan tinta untuk menulis karena alat tulis begitu illegal untuk. Maka maaf bila untuk berkenalan denganmu dengan cara yang tidak sopan sebab aku tidak memiliki teman semenjak orang yang tinggal di dalam tempatmu kini telah lama pergi dan mati bersama kebenaran yang di bawanya kedalam kubur, aku masih bertahan disini karena tubuhku begitu kuat menahan siksa perih yang terus dilancarkan mereka padaku. Semoga kau lebih kuat dari tetanggaku yang dulu, menutup mulut untuk logika yang salah dan meneriakan tentang kebenaran terhadap sipir - sipir yang telinga mereka telah tuli karena tertutup oleh lembaran uang kertas yang akan membusuk menjadi makanan di dalam perut mereka beserta istri dan anak mereka. Semoga kau tabah menjalani hidup dengan tubuh yang terluka dan jangan takut luka di tubuhmu akan segera sembuh apabila syarafmu ikut memberontak terhadap rasa sakit, karena rasa sakit kita belum seberapa dibanding dengan matinya keadilan di negri ini. Harapanku untuk imbalan dari rasa sakit ini dalah reinkarnasi keadilan yang telah lama di bunuh oleh para penguasa yang bertingah seperti Fir ’aun.
Sahabatku yang besi telah menutup kebebasan ragamu, aku tidak begitu mengenalmu namun aku tahu pasti bahwa kamu terkurung bukan karena kesalahan tapi kau dikandangkan akibat rekayasa kebenaran yang menjadikan mu sebagai orang yang bersalah. Sudah 3 tahun berlalu dan aku masih di dalam sini, mereka juga tidak mau membunuhku sebab mereka ingin memberikan shock therapy kepada orang – orang yang tidak senang dengan tindakan mereka, untung saja nyawa ku masih betah untuk berlama – lama di dalam ragaku dan masih menemanimu untuk ku kirimi surat ku ini.
Lama sudah aku merindukan kebebasan, lama sudah aku ingin menghirup udara pegunungan namun apa boleh di kata kendaran yang membawa imajinasiku untuk berjalan berada di dalam jeruji dan sedang bersebelahan denganmu, pernah aku di tawari untuk pergi dari sini namun imbalan nya aku harus meperbaiki sikapku, tindakanku, serta memohon maaf kepada tuan raja yang telah ku unggit borok di wajahnya, bagiku lebih baik berada di dalam sini dibanding harus mengakui kesalahan yang tidak pernah ku lakukan sama sekali, lebih baik terkurung jasad dari pada terkurung jiwa yang kerdil karena takut pada perpajangan tangan sang diktator
Sahabatku mungkin kamu bosan melihat tulisanku tentang kebenaran didalam suratku ini dan mungkin kamu juga ingin mencibir, “ aku tahu apa tentang kebenaran “ tapi aku hanya coba menyampaikan kebenaran itu sejauh apa kebenaran yang aku tahu dan yang pasti aku mengerti adalah kebenaran mutlak bersama Tuhan yang telah menciptakan alam semesta yang sementara kita tinggali dan sama – sama diwariskan kepada kita semua namun kini coba dikuasai oleh orang – orang tamak. Teruslah kita berada di dalam sini, teruslah kita memberontak atas ketidak adilan, sampai tiba masanya kebenaran yang menang sampai tiba masanya perjuangan ini berujung dengan keberhasilan ideology dan cita – cita para nabi atau sampai nyawa bercerai dari jasad, sebab Tuhan beserta kebenaran dan Tuhanlah yang Maha Adil.
Hormatku,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar